Anak Kampung

Jumat, 10 Mei 2013

"MAAFKAN AYAH"

Maafkan Ayah Yang Sok Tahu 

Seorang ayah sedang memeriksa buku PR anaknya.

"Loh kok PR Matematikanya belum di kerjakan? Bukankah ini PR untuk besok? Kenapa kakak tidak segera mengerjakanya?"
Tanya sang ayah dengan lembut
Anak kelas 3 SD itu menjawab.
"Sebentar Yah, aku kerjakan sebentar lagi"
Katanya juga dengan suara yang lembut.

"Jangan begitu dong, PR besok harus dikerjakan sekarang, tidak ada waktu lagi, Ayo Kerjakan!!!"
Ayah yang peduli itu mulai memerintahkan dengan suara yang lebih tinggi dan dengan tatapan yang lebih tajam.

Anak kecil usia 8 tahun itu tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Dengan langkah yang berat diapun menggambil buku dan pena, lalu mulai mengerjakan PR-nya.
Satu, dua soal mulai dikerjakan. Dinomor berikutnya dia nampak tidak konsentrasi, hitungan sederhanapun nampak seperti hitungan matematika yang rumit.

"4 X 8 berapa?" Ayahnya bertanya.

Anak itu menatap langit-langit rumah dan menjawab:
"30, eh salah"
Katanya melihat ayahnya menatap dengan sorot mata heran bercampur marah.

"Bagaimana kakak ini, 4 X 8 saja tidak bisa. Kakak kan sudah kelas 3, masa harus turun lagi ke kelas 2 atau ke kelas 1? Ayo jawab cepat : berapa 4 X 8 ?"

Suasana belajar telah berubah menjadi pengadilan atau ruang interogasi, pertanyaan-pertanyaan dilontarkan dengan cepat dan dengan nada yang tidak bersahabat.
Ayah dan anak telah berganti peran menjadi musuh yang berhadapan, namun sangat tak seimbang. Seperti nabi Daud melawan raksasa Jalut.

Dengan air mata yang mengalir dipipi, anak kecil itu berhasil juga mengerjakan PR nya yang hanya berjumlah 10 soal selama 2 jam. Lalu dia pergi ke kamar tidur dengan wajah tertuduk seperti seorang petinju yang babak belur dihabisi lawan. Atau seperti Sang Kapten bola yang gagal mengeksekusi pinalti di final kejuaraan sepak bola dunia.

Yah, itulah mereka yang kalah atau dikalahkan.
Mereka yang mengerjakan sesuatu atas pesanan dan tak tersisa ruang untuk mengekspresikan dirinya.
Harus sekarang, dengan cara saya dan ukuran yang saya tetapkan, diluar itu apapun yang dihasilkan tak masuk hitungan.

.........

Dengan rasa penasaran yang menggantung, ayah yang peduli itu menengok anaknya di tempat tidur.
Ketika itu emosinya sudah reda dan dia merasakan sedikit rasa bersalah didalam hatinya.
Diapun bertanya kepada anaknya.
"Kakak, kenapa sih, kenapa tadi tidak punya perhatian kepada pelajaran?
Ayah tau kakak pintar, tapi kenapa PR tidak dikerjakan?
Kok 4 X 8 saja kakak tidak bisa jawab?"

Anak kecil itupun kemudian menjawab, masih dengan mata yang sembab.
"Ayah, waktu ayah menyuruh mengerjakan PR, kakak sedang ngafalin hadits. Besok malam, malam minggu, ada tampilan anak-anak TPA. Anak-anak Ikhwan di kelompok kakak harus menampilkan hafalan 20 hadits. Kakak yang ditunjuk Ustadz untuk menjadi pemimpinya. Kelompok kakak ada 5 orang, masing-masing harus hafal 4 hadits. Tapi, kakak kan yang jadi pemimpin, kalau ada teman yang lupa, kakak harus mengingatkanya, supaya dapat nilai bagus dari Ustadz"

"Waktu ayah nyuruh kakak mengerjakan PR tadi, kakak sedangan menghafal hadits.Sudah 18 hadits, ayah. Tinggal 2 hadits lagi yang kakak belum hafal. Asalnya, kalau udah hafal yang 2 hadits itu, kakak langsung ngerjakan PR" Katanya sambil menatap wajah ayahnya.

Ayah yang termangu sejak tadi itupun segera memeluk anaknya dan berkata:
" Maafkan ayah ya, maafkan ayah yang sok tahu".
disini aku terdiam kaku, sentak tanpa kata..
seakan dunia gelap oleh kabut malam, tanpa bulan dan bintang didalamnya..

ku hentakkan kaki rapuh ini, ingin pahami arti penyesalan..
aku mengerti kupu" berimigrasi mencari bunga yang tumbuh, yang lebih segar..
aku paham malam selalu ada ketika siang pergi..
aku tahu bahwa selalu datang pelangi yang indah ketika hujan sirna..

kau tak seperti yang dulu, kau berubah...
kau rusak impian anyar ku yang masih putih
kau tak seperti yang dulu, kau ingkar
kau bohongi perasaanmu, perasaan kita
kau tak seperti yang dulu, kau hilang
perlahan kau paksa memory ini hapus kenangan kita

aku tak hancur, aku tak kecewa,
aku tak sakit, aku tak menyesal,
aku tak marah, dan aku tak berubah,..

Selasa, 01 Januari 2013

kapan pelangi datang?

(catatan yang tergores di kertas usang pada tanggal 29 Juni 2012)

perlahan, perlahan tapi tidak persatu turunnya rintik itu..
kulihat dari jendela, hujan itu datang bukan tiba-tiba
diawali dengan awan mendung, langit menggelapkan pencahayaan
begitu alami dan nyata proses itu hingga hujanpun menjadi deras
ketika itupun aku merasakan hal yang sama
sama dengan yang ku rasakan
kurasa pada saat itu ada perubahan alami dalam hubungan itu
dulu dengan isi bersimbol keceriaanmu membalas setiap pesan singkatku
dengan kemanjaan kelakuanmu harap perhatianku
tapi itu hanya bertahan selama setengah semester(3 bulan)
kini kurasa ada yang berbeda denganmu,
tak ada lagi senyum tulus, tak ada mata kejujuran
yang kulihat semua tersimpan rapi dalam "diam" itu
firasat pun semakin jelas dengan adanya jejaring sosial
ku lihat kemanjaan itu tak lagi bermuara padaku
ku rasa kenyamanan itu hilang ketika kau bersamaku
ku dengar rasa itu sudah dirampas oleh "adam" lain dariku
kau memang tak bermaksud membohongiku, tapi "keadaan" seakan menghianati perih
tak ada yang salah, tak ada yang perlu disalahkan,
ku rasa ini bagian dari turun hujan itu
deras, sangat deras..
tak ada yang kering, semua basah oleh hujan itu...
dan sekarang hujan itu perlahan berubah menjadi gerimis lalu hilang
dan masih sibuk mencari, menanti, dan berharap pelangi indah segera tiba,
ku tak tahu, kapan pelangi datang???